Rokan Hilir, Riau – Kebakaran lahan di Rokan Hilir terus menjadi perhatian serius pemerintah dan aparat TNI/Polri. Hingga pekan ini, tercatat sekitar 1.098 hektare lahan telah hangus terbakar di wilayah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Meski demikian, Panglima Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan (Pangdam I/BB), Mayjen TNI Mochammad Hasan, menyatakan bahwa kondisi karhutla hari ini sudah semakin terkendali dan mengecil.
Penanganan Intensif Kebakaran Lahan di Rokan Hilir
Pangdam I/BB menjelaskan bahwa sejak terjadinya lonjakan titik api beberapa hari lalu, pihaknya langsung mengerahkan personel dari satuan TNI untuk memperkuat tim pemadam di lapangan. Bersama dengan BPBD, Manggala Agni, serta masyarakat peduli api (MPA), operasi pemadaman dilakukan secara maksimal.
“Tim gabungan telah bekerja keras siang dan malam. Kami fokus pada wilayah-wilayah yang rawan terbakar. Alhamdulillah, luas kebakaran kini sudah tidak bertambah signifikan. Penurunan titik api sangat terasa,” jelas Mayjen Hasan saat konferensi pers di Posko Satgas Karhutla Rohil, Selasa (5/8/2025).
Fokus Wilayah: Tanah Gambut dan Area Perkebunan
Lahan yang terbakar di Rokan Hilir didominasi oleh tanah gambut, yang diketahui sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Selain itu, sebagian besar titik api berada di sekitar area perkebunan, baik milik perusahaan maupun masyarakat.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, lokasi terdampak terbesar berada di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Sinaboi, dan Bangko Pusako. Petugas pemadam juga menghadapi tantangan sulit akibat akses ke lokasi yang terbatas dan minimnya sumber air.
Teknologi dan Strategi Pemadaman Ditingkatkan
Untuk mempercepat proses pemadaman, Satgas Karhutla menggunakan berbagai teknologi terbaru. Helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau area yang sulit diakses. Selain itu, penggunaan alat pemantau hotspot via satelit membantu dalam mendeteksi titik api lebih dini.
“Kami berupaya maksimal agar kebakaran lahan di Rokan Hilir tidak meluas ke daerah lain. Operasi darat dan udara dilakukan secara simultan,” ujar Komandan Korem 031/Wira Bima, Brigjen TNI Parlindungan Hutagalung.
Kerugian dan Dampak Lingkungan
Dampak kebakaran lahan di Rokan Hilir tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan kesehatan masyarakat. Kabut asap mulai menyelimuti beberapa wilayah di Riau, terutama pada pagi hari, dengan kualitas udara yang memburuk di beberapa titik.
Pihak Dinas Kesehatan setempat mencatat peningkatan kasus gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia. Sekolah-sekolah di area terdampak pun sempat diliburkan untuk menghindari paparan asap yang berbahaya.
Pemerintah Tekankan Pencegahan Kebakaran Lahan
Gubernur Riau, Edy Natar Nasution, menegaskan bahwa pencegahan kebakaran harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Ia meminta perusahaan perkebunan untuk bertanggung jawab dalam menjaga areal konsesi mereka agar tidak terjadi karhutla.
“Kebakaran lahan di Rokan Hilir harus menjadi peringatan serius. Semua pihak, terutama perusahaan pemilik lahan, wajib menjaga wilayah mereka. Jika terbukti lalai, kami tak segan menjatuhkan sanksi,” tegas Edy.
Sanksi Tegas untuk Pelaku Pembakaran
Polda Riau bersama jajaran penegak hukum lainnya telah mengidentifikasi beberapa lokasi kebakaran yang diduga kuat disebabkan oleh aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun lalai. Hingga kini, enam orang telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolda Riau, Irjen M. Iqbal, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir tindakan pembakaran hutan dan lahan, baik oleh individu maupun korporasi.
“Kami sudah mengantongi bukti kuat di beberapa titik. Penegakan hukum ini menjadi efek jera agar tidak ada lagi kebakaran lahan di masa mendatang,” ujarnya.
Kolaborasi TNI-Polri dan Masyarakat Jadi Kunci
Salah satu kunci keberhasilan dalam mengendalikan kebakaran lahan di Rokan Hilir adalah kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara TNI, Polri, Pemda, relawan, dan masyarakat lokal dinilai sangat efektif dalam meredam penyebaran api.
Mayjen Hasan juga memberikan apresiasi tinggi kepada warga yang turut serta dalam pemadaman, terutama di wilayah pelosok.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Keterlibatan masyarakat menjadi ujung tombak. Mereka tahu medan dan jalur tercepat ke titik api,” tambahnya.
Antisipasi Jangka Panjang Karhutla Riau
Menghadapi musim kemarau yang masih panjang, Pangdam I/BB menyatakan bahwa tim satgas tidak akan lengah. Patroli rutin akan terus digelar untuk mencegah munculnya titik api baru, khususnya di wilayah rawan seperti Rokan Hilir, Bengkalis, dan Pelalawan.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Riau tengah menyiapkan anggaran tambahan untuk pengadaan peralatan pemadaman dan logistik bagi petugas di lapangan.
Baca Juga : Gelombang Tinggi BMKG Agustus 2025: Peringatan Dini untuk Sejumlah Wilayah Perairan
Kesimpulan: Perlu Komitmen Kolektif Hadapi Karhutla
Kebakaran lahan di Rokan Hilir menjadi pengingat nyata bahwa bencana ekologis ini bisa terjadi kapan saja bila tidak ditangani dengan serius. Meski saat ini api mulai terkendali, namun potensi kemunculan titik baru tetap ada, terutama di musim kemarau ekstrem seperti sekarang.
Penanganan jangka pendek memang penting, tapi upaya pencegahan dan edukasi masyarakat soal bahaya membuka lahan dengan cara dibakar juga harus digencarkan.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat, swasta, dan masyarakat, diharapkan bencana kebakaran lahan di Riau tidak terus berulang setiap tahun.